Jika
masih memiliki nurani yang sehat, peristiwa ini sungguh menikam rasa
kemanusiaan kita. Sungguh terjadi di rumah sakit milik pemerintah, RSU
Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Hidup sudah sulit, mati pun dipersulit...
Adalah
Yakobus Anunut, ayah seorang balita, Limsa Setiana Katarina Anunut (2,5
tahun), penderita gizi buruk dan diare yang mengalami nasib yang
memilukan itu.
Gara-gara tak punya uang Rp 300.000,- untuk menyewa
mobil ambulance rumah sakit, Yakobus Anunut (37 tahun), warga kelurahan
Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, nekat berjalan kaki
kurang lebih 10 kilometer sambil menggendong jenazah anaknya. Beruntung
ada sanak keluarganya yang datang menolong menggunakan mobil saat dia
baru berjalan lebih kurang lima kilometer.
Si kecil Limsa yang
menderita gizi buruk, terkena diare sehingga Yakobus pun membawanya ke
RSU Kupang, NTT, Rabu (11/2/2009). Karena ruang perawatan sudah penuh,
Limsa dirawat di salah satu ruangan instalasi gawat darurat (IGD).
Dengan jaminan kartu kesehatan untuk orang miskin, Yakobus berharap
anaknya mendapat perawatan untuk disembuhkan.
Namun, ternyata
Tuhan berkehendak lain. Baru beberapa saat dirawat, Limsa meninggal
dunia, Kamis dinihari, sekitar pukul 03.00 Wita. Petugas medis kemudian
membawa jenazah Limsa ke kamar jenazah rumah sakit. Ternyata, di ruangan
instalasi pemulasaran jenazah (IPJ), Limsa diterlantarkan begitu saja,
Padahal, biasanya setiap jenazah yang dititipkan di ruangan itu
dimandikan oleh petugas rumah sakit dan disuntik formalin agar tidak
membusuk.
Orang tua korban yang hanya berprofesi sebagai petugas
cleaning service di sebuah instansi pemerintah ini hanya pasrah dengan
perlakuan petugas rumah sakit. Sekitar dua jam menunggu, Yakobus
akhirnya menemui petugas ambulance untuk meminta jenazah anaknya dibawa
pulang ke rumahnya. Namun, petugas ambulance meminta biaya Rp 300.000,-.
Mereka memberikan kesempatan kepadanya untuk mencari pinjaman.
"Saya
katakan kepada petugas ambulance bahwa untuk membayar ojek saja saya
tidak punya uang. Dari mana saya harus mendapatkan uang sebanyak Rp
300.000,- untuk membayar bapak?", katanya.
Kasih sayang yang
mendalam terhadap buah hatinya, membuat Yakobus tak tega melihat anaknya
tidur membujur kaku tanpa perhatian. Tak sedikitpun ada niat dari
petugas IPJ untuk memandikan bayi malang ini. Karena mengaku tak mampu
membayar, petugas ambulance rumah sakit langsung pergi, tak menghiraukan
Yakobus. Hati bagai disayat sembilu. Perih dan sakit, namun tak bisa
ditumpahkan karena tak punya kuasa untuk melakukannya.
Yakobus
akhirnya memutuskan untuk menggendong jenazah anaknya sambil berjalan
kaki sejauh kurang lebih 10 kilometer untuk kembali ke rumahnya.
"Akhirnya saya putuskan membawanya berjalan kaki saja", ujar Yakobus.
Capek dan Lapar
Yakobus
tidak bisa menyembunyikan kedukaannya karena putri satu-satunya itu
meninggal dalam perawatan di rumah sakit. "Seharusnya anak saya tidak
meninggal kalau ditangani secara baik di rumah sakit", ujarnya sedih.
Dia
mengaku tidak dipedulikan pihak rumah sakit. Pasalnya, Yakobus yang
tercatat sebagai keluarga miskin, membawa kartu jaminan kesehatan untuk
orang miskin, tetap saja diminta membayar sewa ambulance. Padahal dengan
memperlihatkan kartu tersebut kepada petugas, seharusnya jenazah
langsung diantar pulang.
Ia berjalan dari RSU Kupang menuju
kediamannya di belakang Rumah Penitipan Barang Sitaan (Rumpasan) Kelas I
Kupang, kompleks Lembaga Permasyarakatan (LP) Kupang. Dengan linangan
airmata dan berbagai rasa yang berkecamuk di hatinya, Yakobus tidak
menghiraukan dinginnya udara pagi yang menusuk disertai gerimis yang
terus turun. Yakobus nekad berjalan sendirian. Hanya dibungkus sebuah
kain lusuh, Yakobus terus mendekap jenazah buah hatinya agar tidak
terkena percikan gerimis.
Ia sempat membangunkan kerabatnya di
bilangan Oebobo untuk memberitahukan kematian Limsa, lalu terus
berjalan. Tiba di kompleks Flobamora Mall (sekitar 5 kilometer), Yakobus
yang kecapekan, sejenak beristirahat. Semalaman bergadang menjaga Limsa
ditambah belum ada sesuap nasi pun yang mengganjal perutnya sejak
malam, Yakobus butuh waktu untuk melepaskan lelah.
Ternyata masih
ada yang berbaik hati. Sanak saudaranya di Oebobo ternyata diam-diam
mencari kendaraan untuk membantunya. Saat masih melepaskan lelah,
menggunakan sebuah kendaraan pick-up, saudaranya yang berasal dari
Oebobo berhasil menemui Yakobus. Terus mendekap Limsa di dadanya,
jenazah pun diantar sampai di kediamannya.
sumber :http://www.kaskus.us



